Ketahui seberapa fatal penyakit megakolon terhadap sipenderita.

Uncategorized

Penyakit megakolon merupakan kondisi yang menyebabkan terjadinya pelebaran atau pembesaran abnormal pada usus besar atau kolon. Megakolon itu sendiri akan menyebabkan usus besar yang tidak bisa membuang feses dan gas dari tubuh sehingga pada akhirnya dapat menumpuk di usus besar tersebut. Megakolon ternyata dapat disebabkan oleh berbagai hal, sepertihalnya peradangan, infeksi bakteri, atau akibat penyakit bawaan dari lahir (kongenital), seperti penyakit Hirschsprung pada bayi.

Walaupun, penyakit tersebut terjadi tanpa adanya sebab yang jelas, sehingga dikenall dengan istilah sindrom Oglivie. Yaitu pelebaran usus besar akibat megakolon yang terjadi hanya sementara ataupun permanen. gejala berupa gangguan pencernaan, seperti sakit perut, perut mengeras, demam, dan kembung yang akan ditimbulkan oleh penyakit megakolon itu sendiri. Penderita megakolon dapat diobati melalui operasi dan pemberian obat-obatan untuk menyembuhkan penyebab megakolon, seperti antibiotik atau kortikosteroid. Penyebabnya berbeda-beda, tergantung jenis dari megakolon itu sendiri. Berikut beberapa jenis-jenisnya yang dapat kamu fahami.

  • Megakolon akut

Megakolon akut adalah pelebaran usus besar tanpa penyebab yang jelas. Megakolon akut dapat terjadi ketika usus besar mengalami pelebaran tanpa ada faktor penyumbat aliran usus besar tersebut. Megakolon akut dikenal juga dengan nama sindrom Oglivie.

  • Megakolon toksik

Megakolon toksik adalah jenis megakolon akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium difficile atau radang usus, seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif. Megakolon toksik akan menyebabkan usus besar mengalami pelebaran dengan cepat, bahkan dapat menyebabkan pecahnya usus besar. Megakolon kronis dapat disebabkan oleh penyakit bawaan (kongenital) atau komplikasi dari penyakit yang diderita. Contoh penyakit bawaan yang dapat menyebabkan megakolon kronis adalah penyakit Hirschsprung dan sindrom Waardenburg-Shah. Sedangkan penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi berupa megakolon kronis seperti, penyakit parkinson, chagas, skleroderma dan gangguan metabolisme seperti hipotiroidisme atau hipokalemia. Megakolon kronis umumnya menimbulkan gejala berupa sembelit. Megakolon kronis yang timbul akibat penyakit bawaan dapat menimbulkan sembelit pada bayi. Sedangkan megakolon kronis yang bukan akibat penyakit bawaan akan menimbulkan gejala berupa sembelit pada saat dewasa. Selain sembelit, penderita penyakit megakolon kronis juga dapat mengalami inkontinensia tinja atau kadang diare.[1]

“dilansir dari laman sehatq” Definisi dari penyakit yang satu ini memanglah bervariasi. bahkan, ukuran diameter usus yang lebih dari 12 cm, bisa disebut juga sebagai penyakit megakolon. Megakolon dibagi menjadi 3 kategori yaitu megakolon akut, megakolon kronik dan megakolon toksik. toksik itu sendiri merupakan kondisi langka yang dapat terjadi, sehingga ketika terjadi pelebaran dari usus besar, dan berkembang dalam beberapa hari, bahkan resiko fatalnya dapat membahayakan nyawa.

Kondisi ini disebabkan sebagai komplikasi penyakit radang usus menahun, sepertihalnya penyakit Crohn. Pengobatan jenis megakolon yang satu ini biasanya melibatkan operasi. memerlukan tatalaksana medis dengan segera di rumah sakit. Penderita akan mendapatkan cairan untuk mencegah syok sepsis. Dimana ketika kondisi membahayakan nyawa yang terjadi, infeksi di dalam tubuh menyebabkan tekanan darah menurun drastis, sehingga diperlukannya tim medis untuk masalah ini. Operasi juga dapat dianjurkan untuk mengatasi megakolon akut dan kronik, selain pemberian pengobatan yang sesuai dengan penyebab megakolon itu sendiri.

Misalnya, melalui perbaikan kadar elektrolit dalam darah atau pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi. Ketika tekanan darah stabil, operasi direkomendasikan untuk mengatasi megakolon toksik. Dalam beberapa kasus lainnya, megakolon toksik dapat menyebabkan robekan atau perforasi pada usus. Robekan ini harus diatasi untuk mencegah bakteri dari usus menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan jika tidak ada perforasi (lubang) sekalipun, jaringan dari usus dapat melemah atau rusak, dan perlu dihilangkan. Tergantung dari tingkat kerusakan, penderita mungkin perlu menjalani prosedur kolektomi (pemotongan bagian usus yang sakit). 

Sumber: Klikdokter.com



[1] Sumber referensi Alodokter.com

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*